RUU Usaha Asuransi Harus Bedakan Pialang dan Agen

Ketua Umum Asosiasi Ahli Pialang Asuransi dan Reasuransi Indonesia (APARI) Wunwun Maulidi mengusulkan harus dicantumkan adanya perbedaan jelas antara pialang asuransi dan agen asuransi dalam RUU Usaha Perasuransian.

"Harus ada perbedaan itu. Nantinya kalau ada klaim, pialang kan harus bantu kepentingan klien tapi dia juga dimiliki perusahaan asuransi, kan jadi konflik," kata Wunwun usai Rapat Dengar Pendapat Umum RUU Usaha Perasuransian di Kompleks Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (22/1).

Menurut dia, hal tersebut untuk menghindari adanya perusahaan asuransi yang memiliki pialang karena peranan pialang adalah membantu pemegang polis, bukan membantu perusahaan menghadapi klaim pemegang polis.

"Agar tidak rancu, perusahaan asuransi masa bikin pialang," katanya.

Dia mengatakan ada perbedaan yang jelas antara pialang dengan agen. Pialang berperan membantu kepentingan pemegang polis, sementara agen merupakan wakil dari perusahaan.

Selain usulan pencantuman perbedaan pialang dan agen asuransi, pihaknya juga mengusulkan dicantumkannya ahli asuransi dalam RUU tersebut. Hal itu mengingat RUU tersebut membahas tentang asuransi tapi malah tidak menyinggung sedikitpun tentang ahli asuransi.

"Yang dicantumkan hanya akuntan publik, aktuaris, penilai, padahal judulnya RUU perasuransian tapi kok ahli asuransi tidak disebut," katanya.

Wakil Ketua Komisi XI DPR Harry Azhar Azis menilai masukan yang diberikan oleh APARI masuk akal. Menurutnya, antara pialang dan agen asuransi memang harus dipertegas di dalam RUU Usaha Peransuransian. Artinya, pialang asuransi berada pada perusahaan di luar asuransi yang bersangkutan untuk menghindari kerancuan yang timbul sebagai akibat dari ketidaktepatan penempatan pialang asuransi pada perusahaan asuransi.

"Saya kira masuk akal kalau pialang asuransi dan perusahaan asuransi dipisahkan," kata Harry kepada hukumonline.

Dipisahkannya pialang asuransi dan perusahaan asuransi dengan membentuk perusahaan khusus pialang asuransi, maka perusahaan asuransi tidak mempunyai kewajiban memiliki aktuari. Aktuari adalah ahli statistik yang bertugas menghitung besarnya dana asuransi dan preminya.

Meski Harry menyetujui usul tersebut, ia menegaskan hal itu tidak menjamin apakah seluruh Anggota Komisi XI juga memiliki pandangan yang sama. Tetapi, masukan tersebut akan dibahas oleh Komisi XI karena dinilai menjadi poin penting bagi usaha peransuransian.

UU Tersendiri

Sementara itu, Ketua Badan Pengurus Indonesian Senior Executive Association (ISEA), Sri Hadiah Watie, mengatakan perlunya dibuat undang-undang tersendiri bagi asuransi syariah. Soalnya, asuransi ini memiliki prinsip yang berbeda dengan asuransi konvensional.

"Asuransi syariah perlu diatur tersendiri, jangan dicampur aduk dengan yang lain," kata Sri.

Menurutnya, perbedaan asuransi syariah dengan asuransi konvensional adalah syariah itu didasarkan prinsip berbagi. Maksudnya, keuntungan maupun kerugian dibagi kedua belah pihak. Karena itu penggunaan kata polis, menurut dia, tidak tepat digunakan untuk asuransi syariah.

"Polis itu hanya untuk akte tertulis asuransi, sedangkan syariah bukan asuransi, bukan transfer of risk, jadi asuransi syariah seharusnya tidak boleh memakai kata polis," ujarnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan bila nantinya dibuat undang-undang yang mengatur asuransi syariah agar dinamakan UU Pengelolaan Risiko Syariah karena prinsip asuransi syariah berbeda dengan asuransi konvensional.

Terkait pembahasan RUU Usaha Perasuransian, Sri menambahkan pihaknya berpendapat RUU perlu diperbarui dan disesuaikan dengan perkembangan di sektor industri perasuransian itu sendiri.

"UU Usaha Perasuransian yang sebelumnya adalah UU No. 2 Tahun 1992 telah berusia 20 tahun dan hanya mengatur tentang bisnis asuransi dianggap sudah ketinggalan jaman," katanya.

Selain itu, ditambah lagi dengan hadirnya produk-produk keuangan hibrida atau produk-produk keuangan lintas sektor seperti Unit Link, Surety Bond yang telah menimbulkan risiko baru dan wilayah abu-abu dalam pelaksanaan pengaturan industri perasuransian.